Translate

Translate

Wednesday, 13 May 2015

Taat Tanpa Syarat

Sepulang mengantar mengantar anakku Serafim dari kursus pelajaran untuk persiapan UNAS kejar paket A, di tengah perjalanan aku bertanya padanya, "Mbak, ketika kamu mentaati daddy dan mummy, apa yg mendasarimu untuk melakukannya? Apakah supaya daddy dan mummy makin sayang padamu dan makin sering memberi apa yg kamu inginkan, ataukah karena kamu sudah mendapatkan kasih sayang daddy dan mummy?
Serafim menjawab, "Karena daddy dan mummy sudah mengasihiku maka aku taat."
Puji Tuhan, malaikat kecilku mulai memahami kebenaran tentang ketaatan.

Ketaatan sejati adalah ketika seorang hamba melakukan perintah tuannya karena hamba tersebut telah merasakan kebaikan tuannya. Yang menggerakkan hamba tersebut untuk taat adalah karena rasa hormat dan segan kepada tuannya yg sudah memelihara kehidupannya.
Sementara ketaatan semu terjadi tatkala seorang hamba taat pada tuannya agar menarik simpati tuannya agar makin sayang padanya. Hamba tersebut sedang memanipulasi kebaikan tuannya. Dia berharap dengan makin taat pada perintah tuannya maka dia akan mendapat keuntungan lebih banyak.

Kristus Yesus sudah mengajarkan ketaatan sejati, Tuhan Yesus taat hingga mati, Mati untuk menebus dosa manusia, Ketaatan tanpa syarat kepada Allah Bapa dengan manifestasi pengorbananNya di kayu salib bukan didasari keinginan agar manusia berbuat baik kepada Allah, tetapi semata-mata karena Dia mengasihi manusia.

Sementara yg lain mengajarkan ketaatan untuk mencari perhatian Allah guna mencurahkan kasihNya, sebaliknya orang-orang Kristen tebusanNya melakukan ketaatan karena sudah mendapatkan kasihNya. 

Bagaimana dengan anda? Apa motivasi anda ketika sedang taat menjalankan hukum-hukumNya?

Thursday, 2 April 2015

Safety

Safety is not the absence of danger but the presence of God (Jeanette Windle)
"Keselamatan bukan berarti tak hadirnya bahaya tetapi berarti hadirnya Tuhan.

Sesungguhnya setiap manusia sedang mencari atau bahkan menciptakan keselamatan. Sebagai orang Jawa, kata 'selamatan" sudah tidak asing lagi bagi saya. Dalam tradisi Jawa, manusia mendapatkan upacara selamatan hampir di sepanjang hidupnya. Ketika baru lahir, orang tuanya mengadakan selamatan, ketika mulai belajar berjalan, selamatan lagi. Menginjak usia sekolah dasar, seorang bocah disunat, dilakukan selamatan lagi, bahkan kalo sering sakit-sakitan, perlu selamatan sekaligus mengganti nama untuk membuang sial. Ketika dewasa pun ketika mendapat pekerjaan baru ataupun menempati rumah baru, juga selamatan. Bahkan ketika sudah meninggalpun, keluarga yang ditinggalkan masih juga membuat acara selamatan 40 hari, 100 hari dan 1000 hari. Benar-benar ribet. Semua upacara selamatan itu demi utk menghindari
kan diri dari "sang Kala" alias si pembawa sial, menghindarkan diri dari bahaya. Betapa malangnya manusia ketika berpikir bahwa keselamatan dirinya bisa dibeli dengan semua sesembahan itu. Ketika ada syarat yang tidak lengkap saat melakukan upacara selamatan, maka tidak lengkap pulalah keselamatan yg bakal diterimanya. Maka saat menjalani hidup pun terasa selalu ada kekuatiran.
Maka betapa beruntungnya orang-orang yg telah ditebus oleh darah Kristus. Keselamatan yg telah Kristus berikan dengan mengorbankan diriNya mati di kayu salib sangat sempurna hingga cukup sekali saja seseorang menerimanya, dan itu akan berlaku seumur hidupnya bahkan hingga kekekalan.
Maka sangat nampak sekali perbedaan kualitas hidup seseorang yg memiliki Tuhan dengan orang yg hanya memiliki "tuhan-tuhanan".
Milikilah Kristus sebagai Juru Selamat Pribadi, maka bahaya apapun yg kita alami dalam hidup ini tak akan pernah sebanding dengan kasihNya yang tiada bersyarat.

Selamat hari JUMAT AGUNG.